Wisata Edukasi Subak Teba Majalangu: Belajar “Matekap” dan “Ngangon” di Tengah Kota

Anak-anak ikut matekap atau membajak sawah menggunakan sapi di area Teba Majalangu, Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar.
62 Melihat

DENPASAR, POS BALI – Tidak banyak sawah yang masih terjaga di Kota Denpasar. Di antara sawah yang masih tersisa itu, salah satunya berada di kawasan Denpasar Timur, tepatnya di Kesiman Kertalangu.

Warga Denpasar tentu sudah banyak yang pernah berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu di Jalan Bypass Ngurah Rai No. 88, Tohpati, Denpasar. Di dalam area desa budaya ini terdapat jogging track (lintasan lari) Subak Padanggalak. Namun, belum banyak yang tahu, masuk lebih dalam di jogging track ini pengunjung akan menemukan tempat yang dinamakan Teba Majalangu.

Cuaca cerah pada Minggu (8/5/2022) pagi, tampak pemandangan sawah nan hijau dan indah di Subak Padanggalak. Beranjak dari pintu masuk Desa Budaya Kertalangu, Pos Bali langsung menuju jogging track. Para pengunjung lalu lalang di lintasan lari yang membentang di tengah persawahan tersebut. Suasana seperti ini memang jamak ditemukan setiap akhir pekan atau hari libur. Keramaian serupa juga akan tampak pada sore hari.

Anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia, berbaur berolahraga, menghirup udara segar, menikmati pemandangan alam nan asri. Suasana alami semakin lengkap dengan adanya gemericik air yang mengalir di parit atau saluran irigasi yang ada. Sementara dari kejauhan, secara samar-samar tampak pemandangan deretan pegunungan yang membelah Pulau Bali. Tentu pemandangan gunung ini hanya dapat disaksikan saat cuaca cerah.

Museum Subak Mini di area Teba Majalangu.

Di sepanjang lintasan yang dilewati, pengunjung dapat melihat dari dekat aktivitas petani setempat. Ada petani yang majukut, yakni membersihkan rumput atau tanaman liar dari tanaman padi. Ada petani tengah panen sayur, seperti kangkung yang banyak dibudidayakan di sini. Bukan hanya itu saja. Di beberapa titik, ada juga petani yang menggelar dagangan berupa sayur, pisang, jagung, dan hasil panen lainnya.

Setelah melintasi jogging track sepanjang sekitar 500 meter, pengunjung akan tiba di Teba Majalangu. Setelah melewati loket tiket, pengunjung akan memasuki area dalam kawasan Teba Majalangu. Patung semut menjadi ikon tempat rekreasi dan edukasi yang dikelola BUMDes Kerta Sari Utama, Desa Kesiman Kertalangu ini.

Saat Pos Bali tiba di lokasi, sejumlah pengunjung terlihat menikmati tempat wisata ini. Ada beragam kegiatan menarik di Teba Majalangu yang bisa menjadi sarana rekreasi sambil belajar, terutama bagi anak-anak. Salah satu kegiatan yang mengasyikkan, pengunjung bisa berinteraksi dan memberi makan hewan (feeding animals). Termasuk ngangon (menggembalakan) bebek. Hal menarik lainnya, di tempat ini terdapat museum subak mini yang memajang berbagai alat pertanian Bali tempo dulu.

Salah satu pengunjung, Gede Parta mengatakan, sengaja mengajak anak-anaknya, Bagus dan Widya, ke Teba Majalangu supaya lebih mengenal alam persawahan dan subak. Mengingat ia tinggal di perumahan di dalam kota yang jauh dari sawah. Kedua anaknya pun mengaku senang diajak ke sini. “Dengan adanya tempat ini, sekarang melihat sawah, aktivitas petani, museum subak, tinggal ke sini, saya tidak perlu lagi ke luar Denpasar,” ujarnya.

Pengelola Teba Majalangu, Made Semaraputra, mengatakan, Teba Majalangu baru dibuka tahun 2021. Tempat wisata ini memang mengusung konsep edukasi pertanian Bali. “Jadi, bagaimana memperkenalkan budaya pertanian termasuk subak kepada anak-anak. Kita ketahui subak yang mengatur tentang tata kelola air untuk petani hanya ada di Bali, dan ini sudah diakui oleh UNESCO,” paparnya.

DIPANDU OLEH PETANI

Beragam aktivitas di Teba Majalangu sengaja disusun untuk anak-anak sekolah. Di sini anak-anak juga bisa belajar membajak sawah secara tradisional atau yang disebut matekap. Kemudian ikut belajar mamula (menanam) padi bersama petani. Disiapkan pula beberapa permainan tradisional untuk melengkapi rekreasi anak-anak seperti matajog, deduplak, terompah, menangkap bebek, tarik tambang.

Anak-anak ‘ngangon’ (menggembalakan) bebek.

Semaraputra mengatakan, bagi rombongan pengunjung yang datang, akan dipandu mulai dari start jogging track di Desa Budaya Kertalangu. Dipandu langsung oleh pekaseh atau ketua kelompok petani. “Sambil berjalan, pemandu akan menjelaskan tentang subak. Apa yang namanya jelinjingan, telabah, tembuku, dan lain-lainnya. Termasuk juga pembagian kelompok tani dalam bentuk munduk. Materi itu berjenjang, sesuai tingkat sekolah anak,” ujarnya.

Pengunjung juga akan diberi penjelasan kenapa tempat ini dinamakan Teba Majalangu. Semaraputra menjelaskan, teba dalam bahasa Bali adalah halaman belakang rumah. Majalangu adalah situs kerajaan yang pernah ada di Kesiman Kertalangu. Teba itu juga singkatan dari tempat belajar alam.

“Kami juga berikan histori tentang Kerajaan Majalangu yang dalam cerita diruntuhkan oleh segerombolan semut. Makanya di sini kita bikin patung semut sebagai ikon Teba Majalangu. Selain juga semut melambagkan semangat gorong-royong untuk membangun desa,” jelasnya.

Setelah melintasi jogging track, rombongan pengunjung yang tiba di Teba Majalangu akan disuguhi welcome drink yang dibuat dari bunga celeng (telang), jajan laklak, dan teh rosella. “Di sini anak-anak atau pengunjung kami beri edukasi bagaimana memanfaatkan bahan-bahan alami, termasuk kami tunjukkan pembuatan jajan laklak secara tradisional dengan tungku api,” tutur Semaraputra.

Wisatawan asing ikut belajar mamula (menanam) padi di Teba Majelangu.

Ia lebih lanjut mengatakan, di area Teba Majalangu sendiri terdapat beberapa spot, antara lain museum subak mini, feeding animals, kebun organik, lapangan serbaguna, kuliner tradisional. Museum subak memajang alat-alat pertanian tradisional mulai dari proses pengolahan tanah, perawatan tanaman, hingga panen. Termasuk alat untuk mengusir burung. Untuk feeding animals, di sini terdapat kandang kelinci, ayam, bebek, kambing, dan sapi.

Keberadaan wisata edukasi subak ini juga dilirik wisatawan dari luar Bali atau luar negeri. Teba Majalangu pernah dikunjungi rombongan dari Batam dan Jawa Timur. Beberapa wisatawan asing juga berkunjung, hingga ikut mencoba matekap dan mamula padi. “Untuk wisatawan asing yang ingin berkunjung dan mempelajari pertanian tradisional Bali, tidak perlu khawatir, karena kami menyediakan fasilitas tour guide,” katanya. rap

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.