Mudita Adnyana, Maestro Tulis Lontar Asal Tenganan Pegringsingan

1,972 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Ruang senyap Sastra Bali telah lama menjadi jiwa I Wayan Mudita Adnyana, seorang praktisi senior tulis lontar asal Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem. Di usia senjanya ia masih begitu telaten menggurat satu per satu helai daun lontar dan mengabadikan kisah klasik Nusantara yang telah hidup berabad-abad.

Mudita Adnyana mulai menyelam pada lautan tutur sastra klasik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selama puluhan tahun mengabdikan diri pada dunia sepi peminat ini, berbagai karya pun telah digurat. Bahkan, sejumlah karyanya telah terbang ke tangan orang-orang penting dunia, termasuk Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputi dan mantan Presiden Italia, Alessandro “Sandro” Pertini.

“Saya mengasah kemahiran nyastra secara otodidak, karena hiburan kala itu memang minim. Jadi, saya hanya sekolah, bermain, dan belajar sastra Bali,” tutur Mudita di rumahnya belum lama ini.

Ia yang juga merupakan seorang dalang dan pemain gender wayang ini mengakui, selama bergelut di dunia sastra Bali memang secara khusus menyediakan waktu untuk menulis. Aktivitas itu dilakoni sejak subuh, sekira pukul 03.00 dini hari setiap hari, dan berlangsung selama beberapa jam. Karena usia tuanya, kini aktivitas itu memang dikurangi porsi waktunya, namun selalu diambil setiap harinya.

“Setiap hari saya bangun pagi, jam 03.00 sudah bangun dan menyalin lontar. Ada banyak cerita yang sudah saya tulis, ada yang berupa kakawin (puisi Jawa Kuno), parwa (prosa Jawa Kuno), hingga prasi (seni lukis di atas daun lontar),” ucap sastrawan yang Oktober mendatang akan dipanggil ke Jakarta untuk menerima penghargaan.

Karya tulis monumental yang pernah ia gurat salah satunya adalah salinan Ramayana II yang mengisahkan gugurnya raja kera, Subali. Karya inilah yang kemudian dibeli Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, Mudita juga memiliki koleksi yang diakui sebagai karya terbaik, sebuah cakepan lontar berjudul “Purusadasanta” atau yang dikenal di kalangan umum sebagai “Kakawin Sutasoma” karya Mpu Tantular. Sebagai pembeda dengan karyanya yang lain, judul cakepan ini ditatah emas dan disimpan dalam keropak berukir khas Bali. Karya setebal 122 lembar inilah yang diakui sempat ditawar Rp400 juta oleh kolektor asing, namun ia enggan untuk menjualnya.

“Ini sudah tulisan saya yang paling baik. Paling bagus. Yen ne adep tiang, sing kal ada tamu teka mai (kalau karya ini saya jual, tidak akan ada tamu yang akan berkunjung ke rumah saya),” ucapnya.

Terkait teknik menulis di atas daun lontar, sastrawan peraih Dharma Kusuma Madia yang diberikan Gubernur Bali 1978-1988,  Prof. Ida Bagus Mantra, pada 1987 itu menuturkan kuncinya terletak pada ujung pengrupak -pisau kecil yang digunakan menggurat aksara Bali di atas lontar sebelum diwarnai. Dalam menulis, ujung pengrupak harus benar-benar diperhatikan sehingga bisa mengatur kedalaman guratan yang nantinya akan melahirkan wujud tulisan tebal-tipis. Selain itu, jarak antar huruf dan jenis bangun huruf juga wajib diamati, sehingga karya yang dihasilkan enak dipandang.

“Bentuk huruf ada yang bangunnya ngetumbah (bentuknya bulat) dan ngacang ranti (bentuk aksara memanjang). Dan, tulisan yang paling bagus digunakan adalah yang bentuknya ngetumbah,” jelasnya.

Di usianya yang tak muda lagi, berbagai harapan juga ia gantungkan kepada anak muda Bali sebagai generasi yang bertanggungjawab atas keberlangsungan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Ia mengharapkan generasi muda Bali tak melupakan sastra klasik, utamanya nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya, baik yang terumahkan dalam karua berbentuk kakawin, kidung, maupun parwa. “Teknologi telah menjajah kebudayaan Bali, hingga jarang orang menekuni sastra,, tapi jangan sampai kita lupa warisan budaya yang ada,” harapnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.